Rabu, 14 Januari 2009

Semua Tentang Ulama

Akhir-akhir ini istilah ulama sering hanya diartikan dari segi bahasa saja, yaitu orang yang memiliki ilmu. Jika kita pakai definisi ini, maka makin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, makin alim lah dia, maka dia disebut ulama. Jika demikian, maka di hari ini tempat untuk belajar menjadi ulama adalah di perguruan tinggi, seperti di Institut Teknologi Bandung.

Dalam kajian ilmu Islam, dalam mengkaji suatu istilah tidak hanya dari segi bahasa saja, namun juga dari segi syara’, terutama pada istilah-istilah yang dijelaskan di dalam Al Quran dan Hadis. Istilah ini tidak dapat dimaknai hanya dari segi bahasa saja, namun harus memperhatikan uraian yang ada di dalam Al Qur’an maupun hadis.

Menurut Al Ghazali, Ilmu yang dikuasai seseorang dapat masuk ke dalam salah satu hukum berikut:

  • wajib / fardhu, baik fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah
  • Sunat
  • Mubah/ boleh
  • Makruh
  • Haram

seorang muslim tentu saja hanya akan mempelajari & menguasai serta mengamalkan ilmu-ilmu yang bersifat wajib dan sunat, serta ilmu mubah yang dapat diarahkan kepada kemanfaatan umat.

Istilah ulama disebut juga dalam Al Quran sebagai berikut:

Artinya kalau ada orang yang tidak ada rasa takut pada Allah, dia bukanlah seorang ulama.

Rasulullah bersabda bahwa:

“Ulama itu pewaris para Nabi”.(Riwayat Abu Daud dan At Tarmizi)

Kita tahu bahwa para Nabi itu kebanyakannya meninggal tidak mewariskan harta, namun mereka mewariskan ilmu wahyu. Ilmu wahyu ini kalau dipahami & diamalkan akan menjadikan seorang itu akhlaknya baik, kepribadiannya mulia. Jadi artinya ulama itu orang-orang yang mempunyai sifat-sifat pribadi menyerupai para Nabi. Jadi untuk mengecek seorang itu ulama atau bukan, tinggal dicek saja apakah kepribadiannya ada menyerupai kepribadian Rasulullah yang disebut dalam Al Quran maupun Hadis.

Secara bahasa, kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fail dari kata dasar:’ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu. Dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya ilmu.

Al-Quran memberikan gambaran tentang ketinggian derajat para ulama,

Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Selain masalah ketinggian derajat para ulama, Al-Quran juga menyebutkan dari sisi mentalitas dan karakteristik, bahwa para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam salah satu ayat:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[oran yang berilmu]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 2 8)
Sedangkan di dalam hadits nabi disebutkan bahwa para ulama adalah orang-orang yang dijadikan peninggalan dan warisan oleh para nabi.

Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak), tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu.(HR Ibnu Hibban dengan derajat yang shahih)

Mungkin yang dimaskud pernyataan KH Kholil Ridwan tersebut adalah dibidang Agama saja, dimana beliau menkiyaskan dengan hadist Nabi “Bahwa Ulama adalah warisan Nabi”.

Padahal jika ditinjau lebih jauh bahwa Rasulullahpun memiliki ilmu politik, ekonomi, ilmu perang, dsb… begitujuga dengan Masa khalifah berikutnya.

Hal ini yang mungkin saya dapati dari pernyataan KH Kholil Ridwan tersebut bahwa Ulama harus bisa mengayomi semua ilmu. Namun kenyataannya sekarang tidak demikian ada ahli agama, ada ahli teknoloogi, ada ahli ekonomi dsb. Mungkin dalam benak KH Kholil bahwa kata ilmuwan hanya terbatas pada keahlian suatu bidang tertentu dan tidak mencakup semuanya seperti yang terjadi pada masa Rasulullah dan ke-empat khalifah setelahnya. Bagaimana dia disebut pewaris Nabi yang memiliki ilmu jika hanya memiliki satu keahlian saja.

——————–

Ada satu artikel menarik berikut ini, ditulis oleh salah seorang mahasiswa bernama Abd. Halim Fathoni
Sumber artikel : http://www.malangkab.go.id/artikel/artikel.cfm?id=berita.cfm&xid=156

Re-Definisi Istilah Ulama

Oleh: Abd. Halim Fathoni (ah_fathoni@yahoo.com,ah_fathoni@yahoo.co)

Secara bahasa, ‘ulama’ berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui - mufrad/singular) dan ‘ulama (jamak taksir/irregular plural). Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Quran dan hadis.

Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah : ‘innama yakhsya Allahu min ‘ibadihi al ulama’ artinya : sesungguhnya yang paling taqwa kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama (Fathir 28).

‘Al ulama-u waratsatu al anbiya’ artinya : ulama adalah pewaris para nabi - hadits.

Secara hakikat, taqwa tidak mudah dipakai untuk kategorisasi, sebab yang mengetahui tingkat ketaqwaan seseorang hanyalah Allah.

Penyebutan taqwa di sini hanya untuk memberi batasan bahwa ulama haruslah beriman kepada Allah dan secara dhahir menunjukkan tanda-tanda ketaqwaan. Jadi Islamolog yang tidak beriman kepada Allah tidak masuk dalam kategori ulama.

Untuk batasan kedua, ulama adalah mereka yang mewarisi nabi. Al Maghfurllah Kiyai Ahmad Siddiq, Situbondo, menyatakan bahwa yang diwarisi ulama dari nabi adalah ilmu dan amaliyahnya yang tertera dalam al-Quran dan hadis.

Dengan batasan ini, ahli-ahli ilmu lain yang tidak berhubungan dengan al-Quran dan hadis tidak masuk dalam kategori ulama. Kyai Ahmad mengistilahkan kelompok ahli itu sebagai zuama.

Kata al-’ulama’ dan al-’alimun sekalipun berasal dari akar kata yang sama tapi keduanya memiliki perbedaan makna yang sangat signifikan. Perbedaan makna ini dapat ditengarai dalam Al-Qur’an ketika kata al-’ulama’ disebutkan hanya 2 (dua) kali dan kata al-’alimun sebanyak 5 (lima) kali, dan kata al-’alim sebanyak 13 (tiga belas) kali. (lihat al-Baqi, al-Mu’jam, hlm. 603-604).

Penggunaan kata al-’ulama’ dalam Al-Qur’an selalu saja diawali dengan ajakan untuk merenung secara mendalam akan esensi dan eksistensi Tuhan serta ayat-ayat-Nya baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ajakan perenungan terhadap ayat-ayat Tuhan ini adalah untuk mencari sebab akibat terhadap hal-hal yang akan terjadi sehingga dapat melahirkan teori-teori baru. Kata al-’alimun diiringi dengan usainya suatu peristiwa dan Al-Qur’an menyuruh mereka untuk merenungi kejadian ini sebagai bahan evaluasi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Contoh pada tataran ini adalah ketika Al-Qur’an mengajak al-’alimun untuk memikirkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umat terdahulu disebabkan dosa yang mereka lakukan (lihat Q.S. Al-’Ankabut ayat 40-43). Penyebutan kata al-’alim dalam bentuk tunggal semuanya mengacu hanya kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya. Penggunaan kata ini diiringi dengan penciptaan bumi dan langit serta hal-hal yang ghaib dan yang nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa munculnya pengetahuan manusia berbarengan dengan munculnya ciptaan-ciptaan Tuhan.

Kyai Muchith Muzadi,- salah seorang ulama dari NU- membuat kategorisasi ulama atas dasar ilmu, secara garis besar sebagai berikut:

1. Ulama Ahli Quran ialah ulama yang menguasai ilmu qiraat, asbabunnuzul, nasih mansuh dsb. Ulama tafsir adalah bagian dari ini yang memiliki kemampuan menjelaskan ‘maksud’ Qur’an.

2. Ulama Ahli Hadits yaitu ulama yang menguasai ilmu hadits, mengenal dan hafal banyak hadist, mengetahui bobot kesahihannya, asbabul wurudnya (situasi datangnya hadits) dsb.

3. Ulama Ahli Ushuluddin ialah ulama yang ahli dalam aqidah Islam secara luas dan mendalam, baik dari segi filsafat, logika, dalil aqli dan dalil naqlinya.

4. Ulama Ahli Tasawuf adalah ulama yang menguasai pemahaman, penghayatan, dan pengamalan akhlaq karimah, lahir dan bathin serta metodologi pencapaiannya.

5. Ulama Ahli Fiqh adalah ulama yang memahami hukum Islam, menguasai dalil-2nya, metodologi penyimpulannya dari Qur’an dan hadis, serta mengerti pendapat-2 para ahli lainnya.

6. Ahli-ahli yang lain, i.e., ahli pada berbagai bidang yang diperlukan sebagai sarana pembantu untuk dapat memahami Qur’an dan hadits, seperti ahli bahasa, ahli mantik, ahli sejarah, dsb. Merujuk pada arti ulama-baik secara bahasa dan istilah- dan kategorisasi ulama menurut Kyai Muchit Muzadi, ternyata selama ini yang dipahami masyarakat telah mengalami ‘kecelakaan pemahaman’. Menurut kebanyakan orang, yang dimaksudkan sebagai ulama hanyalah orang-orang yang mumpuni di bidang agama-dalam hal ini meliputi tafsir, tasawuf, aqidah, muamalah, dan sejenisnya bahkan ada yang menambahkan ulama dalaha orang ahli agama yang memilki pondok pesantren (sekaligus memiliki santri).

Sedangkan ahli bidang keilmuan yang lain, misalnya: ahli bahasa, ahli sains, ahli teknik, ahli ekonomi- yang nota bene juga merupakan bidang ilmu yang dapat dijadikan sarana untuk lebih memahami al-Qur’an dan hadits serta mendekatkan diri kepada Allah ternyata tidak pernah disebut sebagai ulama, melainkan sering dinamakan dengan sebutan Guru/Dosen. Yang lebih merepotkan, istilah “ulama” yang beredar dalam masyarakat kita - seperti berbagai istilah lain - mempunyai “kelamin ganda” dan berasal tidak hanya dari satu sumber. Dalam bahasa Indonesia, ulama berarti “orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan Islam agama Islam” (lihat Kamus Besar bahasa Indonesia, halaman 985).

Sedangkan di Arab sendiri, ulama (bentuk jamak dari alim) hanya mempunyai arti “orang yang berilmu”. Dalam hali ini, menurut Imam Suprayogo (2006)-dalam bukunya-Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam- menegaskan bahwasannya selama ini, pembidangan ilmu agama Islam (seputar tauhid, fiqh, akhlaq, tasawuf, bahasa arab, dan sejenisnya) telah berhasil melahirkan berbagai sebutan ulama, seperti ulama fiqh, ulama tafsir, ulama hadits, ulama tasawuf, ulama akhlaq, dan lainnya. Tetapi, tidak pernah dijumpai ulama yang menyandang ilmu selain tersebut.

Misalnya ulama matematika, ulama teknik, ulama ekonomi dan sebagainya. Mereka yang ahli di bidang tersebut hanya cukup disebut sebagai sarjana matematika, sarjana teknik, sarjana ekonomi, dan seterusnya. Para ahli di bidang ini dipandang tidak memiliki otoritas dalam ilmu keislaman sekalipun mereka beragama Islam dan juga mengembangkan ilmu yang bersumber dari ajaran Islam. Selama ini, definisi ulama yang dikonstruk masyarakat adalah orang yang mengkaji fiqh, tasawuf, akhlaq, tafsir, hadits, dan sebagainya. Berangkat dari hal ini, menurut Suprayogo seharusnya ulama tidak sebatas dilekatkan pada diri seseorang yang memahami tentang fiqh, tauhid, tasawuf, dan akhlaq saja melainkan orang yang mengetahui dan memahami tentang segala hal yang terkait dengan objek yang dikaji.

Jika demikian penggunaan arti ulama, maka ulma bisa dilekatkan pada berbagai orang yang mendalami ilmu tentang apa saja, termasuk misalnya kedokteran, ekonomi, sains, teknik, dan bahkan juga seni dan budaya. Selanjutnya tidak diperlukan lagi pembedaan istilah intelek dan ulama, karena pada hakekatnya ulama yang intelek dan intelek yang ulama tidak memilki perbedaan. Penggunaan konstruk yang berbeda terhadap fenomena yang sama tetapi berbeda objeknya saja ternyata terjadi dalam banyak hal.

Misalnya menggunakan istilah madrasah yangberbeda dengan sekolah, guru dengan ustadz, kitab dengan buku, asrama mahasiswa dengan pondok pesantren, perpisahan dengan akhirussanah, dan lain sebagainya. Di sini, penggunaan konstruk yang bernuansa ke Arab-araban dipandang sebagai bernuansa spiritual transcendental yang dirasakan terdapat nuansa agama Islam. Untuk memahami lebih dalam bagaimana masyarakat membedakan antara konstruk yang bernuansa agama dengan yang bukan agama, dapat mengikuti pembedaan yang sama antara guru dengan ustadz.

Disebut guru jika seseorang mengajar matematika, biologi, teknik, ekonomi, bahasa Inggris dan seterusnya. Lain halnya jika seseorang mengajar ilmu fiqh, tafsir, tasawuf, bahasa Arab dan lainnya maka akan disebut dengan ustadz. Pembedaan seperti ini menjadikan Islam terkesan eklusif (tertutup) dan bukan inklusif (terbuka), seolah-olah Islam hadir ke bumi ini hanya mengurus hal-hal yang berkenaan dengan ke-akhirat-an saja. Padahal kalau kita mau mencermati secara seksama dalam al-Qurâan dan al-Hadits justru lebih banyak berbicara tentang keselamatan hidup di sini dan sekarang, karena memang yang di sini dan sekarang akan berdampak pada kehidupan di akhirat yang nanti dan di sana.

—————-

Artikel diatas adalah tanggapan atas pernyataan Ketua MUI tentang Ulama.
Berikut artikel tersebut :

Ketua MUI: Kita Butuh Ulama, Bukan Ilmuan

Rabu, 13 Peb 08 07:33 WIB

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Kholil Ridwan menyatakan, semestinya tradisi keilmuan dalam Islam melahirkan ulama, bukannya ilmuan. Sebab, antara ulama dengan ilmuan itu tidak sama.

"Yang menjadi masaalah pada hari ini ialah rakyat dan masyarakat tidak faham siapa itu ulama.Mungkin juga umara tidak kenal siapa ulama sebenarnya.Kemudian ada pula orang yang merasakan dirinya ulama sebab boleh bercakap dan membaca ayat Al Quran"


Dalam Islam yang Hadhari atau realiti atau hakiki, peranan ulama tidak boleh diperkecilkan. Tanpa ulama yang mendidik (tarbiah) dan memberi ilmu (taalim), usaha ke arah membina Islam yang Hadhari sudah tentu akan gagal. Kerana tanpa didikan dan ilmu, kita tidak akan tahu bagaimana hendak berbuat dan ke arah mana usaha kita hen-dak dihalakan. Kita juga tidak akan ada kekuatan roh dan jiwa untuk melaksanakannya. Kerja membangunkan Islam Hadhari bukan calang-calang kerja. la bukan perkara kecil atau mudah. la penuh dengan kepayahan, pengorbanan dan keperitan. Tanpa ilmu dan didikan, kita akan jadi kaku dan beku. Tanpa ilmu kita kaku untuk bergerak. Tidak tahu bagai-mana dan apa caranya. Tidak tahu arah tujuannya. Tanpa didikan pula kita akan beku. Walaupun ilmu ada, tetapi kita tidak ada kekuatan dalaman atau kekuatan jiwa untuk meng-harungi ujian, kesusahan dan pancaroba yang pasti akan di-hadapi.

Umat Islam perlu tahu dan kenal ulama supaya mereka mencintainya dan mendapat didikan serta pimpinan darinya yang wajib mereka perolehi dalam hidup di dunia ini. Umat yang tidak kenal dan tidak cintakan ulama pasti tidak akan bertemu iman dan Islam yang sebenarnya. Mereka tidak akan faham tentang agama anutan mereka. Bahkan mereka tidak akan faham tujuan dan arah hidup yang sedang mereka tem-puh ini. Mereka akan hidup dalam kegelapan, tidak nampak apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang benar dan apa yang salah.

Ulama seperti manakah yang boleh dan mampu mengajar dan mendidik kita ke arah terbangunnya Islam Hadhari? Ulama seperti manakah yang boleh menjadi sumber inspirasi dan sumber rujukan kepada para umara dan rakyat jelata yang terlibat dalam membangunkan Islam Hadhari? Siapakah yang dikatakan ulama itu? Adakah orang yang agak tinggi ilmu Islamnya itu ulama? Apakah pula peranannya?

PENGERTIAN ULAMA YANG SEBENAR

Hadis ada menyebut:
Maksudnya: "Bila ulama dan umara (pemimpin) baik, umat Islam pun akan baik."

Dalam hadis ini, ulama didahulukan kemudian barulah umara. Ulama memberi ilmu dan memberi contoh. Kalau hendak dilaksanakan secara global, ulama tidak mampu sebab dia tidak ada kuasa dan kekuatan. Umara ada kekuatan ekonomi, politik dan negara. Umara boleh menggerakkan rakyat. Oleh itu, umara mesti bergantung kepada ulama. Kemudian dia apply dan dipraktikkan nasihat dan ajaran ulama kepada masyarakat.

Yang menjadi masalah pada hari ini ialah rakyat dan masyarakat tidak faham siapa itu ulama. Mungkin juga umara tidak kenal siapa ulama yang sebenarnya. Kemudian ada pula orang yang merasakan dirinya ulama sebab dia boleh bercakap dan boleh membaca ayat Al Quran. Masyarakat pun mengangap dia ulama.

Sebenarnya ulama itu bukan dia yang melantik dirinya menjadi ulama hanya kerana dia mempunyai sedikit Kemudian buat pula persatuan ulama. Ini tidak pernah dalam sejarah Islam. Title ulama di sisi Tuhan bukan diukur pada degree atau ijazah, ilmu atau jawatan. Dia sendiri pun tidak boleh mengaku yang dia itu ulama.

Hanya Allah yang tahu. Ini penting supaya umat tidak keliru siapa yang sepatutnya mereka ikut dan pimpinan siapa yang patut mereka terima. Imam Syafie contohnya, rakyat mengakui dia ulama tetapi dia sendiri tidak mengakui dirinya ulama Imam Ghazali pun dikata orang sebagai ulama tetapi dia sendiri tidak pernah mengaku begitu. Ulama atau tidak bukan berdasarkan penilaian orang ramai. Bukan juga pada penilaian kerajaan dan lebih-lebih lagi bukan atas dasar merasakan diri sendiri ulama. Kalau begitu, siapakah sebenarnya ulama?

Istilah ulama adalah dari bahasa Arab. Maksudnya disegi bahasa ialah orang-orang alim atau orang-orang pandai. Boleh dikatakan juga para ilmuan dan para cerdik pandai. Pada segi bahasa, ulama itu adalah orang alim dalam apa sahaja bidang ilmu sama ada ilmu dunia mahupun ilmu akhirat, ilmu baik atau pun ilmu jahat, tidak kira ilmu itu diamalkan atau pun tidak. Orang yang mempunyai ilmu di bidang ekonomi misalnya, digelar ulama. Begitu juga yang mengetahui ilmu usuludddd, dia juga digelar ulama.

Berdasarkan fahaman dan pengertian inilah kita sekarang memberi gelaran ulama kepada seseorang, iaitu sesiapa sahaja yang alim dalam bidang ilmu apa pun, kita panggil dia ulama.

Pengertian ulama dalam Islam berbeza.
Di samping ilmu, dia perlu ada syarat-syarat yang lain seperti di bawah:
1. Beriman

Ulama itu mestilah dari kalangan orang-orang yang beriman.
Firman Allah: Maksudnya: "Allah mengangkat mereka yang beriman di kalangan kamu dan mereka yang diberi ilmu itu beberapa darjat." (Al Mujadalah: 11)

2. Beramal

Mereka mestilah beramal dengan ilmu mereka.
Seperti kata Abu Darda`: Maksudnya: "Tidak dianggap seseorang itu alim sehinggatah dia beramal dengan ilmunya. "

3. Takutkan Tuhan

Mereka mestilah orang yang takut dengan Tuhan.
Firman Allah: Maksudnya: "Hanya sanya yang takut dengan Tuhan Itu ialah utama. " (Al Fathir: 28)
Di sini ada dua perkara besar. Ada dua perkataan di dalam ayat ini yang menjadi kunci iaitu ulama dan takut. Oleh itu, ulama di sini ialah orang yang ada ilmu, Yakni ada Hmu dunia dan ilmu Akhirat, ada ilmu tentang Tuhan, tentang syariat dan tentang akhlak. Kemudian dia takut dengan Tuhan.

Setelah itu, Tuhan berfirman lagi, kalau ulama itu mem-punyai ilmu dunia dan ilmu Akhirat dan dia takut pula dengan Tuhan, maka Tuhan perintahkan melalui ayat-Nya: Maksudnya: "Hendaklah kamu bertanya (tentang Akhirat, tentang dunia iaitu hal-hal ekonomi, masya-rakat dan lain-lain) kepada ahii zikir jiko kamu tidak mengetahui." (An Nahl: 43)

Rupanya, ulama itu ialah ahli zikir . Ahli itu orangnya. Zikir itu sifatnya. Ertinya ulama itu, hatinya terhubung dengan Tuhan dan sentiasa terisi dengan rasa cinta dan takutkan Tuhan. Hatinya sentiasa hampir (qarib) dengan Tuhan kerana itulah maksud zikir yang sebenarnya. Zikir bukan setakat memegang biji tasbih dan melafazkan istilah-istilah dan ayat ayat zikir. Itu belum boleh dikatakan zikir kerana hanya dibibfr sahaja. Belum terasa di hati. Zikir itu ialah apa yang dirasakan di hati. Dengan kata-katayang lain, ulama itu setidak-tidaknya bertaraf muqarabbin.

Ertinya lagi, ulama itu ilmunya mendarah daging. Maksud-nya dia tidak payah buka kitab. Bila ditanya tentang ilmu Islam, dia boleh terus jawab. Bila dia ditanya tentang masya-rakat Islam, pejam-pejam mata sahaja, dia boleh jawab. Kalau perlu buka kitab, itu guru hendak mengajar atau muailim, bukan ulama. Lagipun apa yang ada dalam kitab itu ilmu orang lain bukan ilmu dia. Kalau buka kitab Imam As Syafie, maka itu ilmu Imam As Syafie. Kalau buka kitab Imam Al Ghazali, maka itu ilmu imam Al Ghazali. Dia hanya menyampaikan ilmu orang. Kalau hanya setakat menyampaikan ilmu orang lain, tidak bolehlah dikatakan ulama.

Ulama atau ahli zikir ini, hatinya ibarat gudang. Segala jenis barang ada di dalamnya. Mintalah apa sahaja yang diperlukan, nescaya dia boleh bagi. Hendak minta apa pun, semua ada di dalam gudang itu. Dia tidak rujuk kepada orang. Malahan dia adalah tempat rujuk. Dia tidak merujuk kepada kitab yang ditulis oleh orang. Dia merujuk kepada hatinya yang penuh dengan ilmu. Sebab itulah, bila disuruh bertanya, Allah tidak sebut tanya guru. Tetapi tanyalah ahli zikir.

Oleh itu, kalau kerajaan atau umara, orang besar atau kecil atau rakyat hendak bertanya, tanyalah ulama atau ahli zikir seperti ini. Jangan tanya para ustaz atau muailim. Walau-pun mereka mempunyai ijazah, hakikatnya mereka faham hanya satu-satu bab sahaja dari ilmu Islam.

Pemimpin sebenar (umara) perlu bergantung kepada ulama atau ahli zikir seperti ini. Kemudian dia apply dan praktikkan ilmu dan nasihat ulama tersebut kepada masyarakat. Ulama seperti ini tidak perlu menonjolkan diri. Kalau dia perjuangkan ilmunya, dia akan tertonjol sendiri.

Tidak ada komentar: